Keindahan kecil di bumiku yang perlahan menghilang

Sadar atau tidak, dalam setiap harinya, satu persatu, bumi telah kehilangan keindahannya seperti dahulu. Hanya dalam rentang satu generasi, bumi sudah berubah banyak sekali. Perlahan tapi pasti, bumi telah mengikis keindahannya yang asri.
Entah atas ulah siapa.
Satu perubahan itu adalah saya jarang, jarang dan jarang sekali bisa menemukan adanya cahaya kunang-kunang di persawahan, di bantaran sungai dan di tanaman-tanaman sekarang ini. Mungkin satu, dua yang hanya terlihat titik titik cahaya dalam gelap malam.
Saya semakin menyesal atas perubahan itu saat Bapak bercerita tentang masanya saat sesaya dulunya.
Dulu, kunang-kunang hidup bergerombol pada dedaunan yang basah. Ketika ada sesuatu yang mengusik mereka, mereka akan terbang dengan kelap-kelip cahaya ditubuhnya secara bergerombol seperti bebintangan yang berpindah rendah. Sungguh! Betapa indahnya alam malam jaman dahulu. Hanya satu generasi sudah bisa menghapus sebuah keindahan itu.
Bapak saya berkata, “semakin hari, bumi semakin kering saja. Dulu banyak dijumpai tanah-tanah lumpur yang jika terperosok akan susah naik. Sekarang tidak ada.”
Imajinasi saya lantas melukiskan betapa indahnya alam jagat raya pada generasi satu dua tiga empat yang lalu.
Saat saya masih SD, saya suka sekali membuat taman dengan bermacam bunga di dalamnya. Kerikil yang saya cari dari sungai di sawah, saya tata sedemikian rupa sebagai jalan di taman. Pagarnya sendiripun Bapak yang membantu membuatkan.
Dalam taman saya yang kecil, dulu, banyak sekali saya temukan belalang dengan berbagai rupa. Seperti belalang sembah, belalang hijau kepala pipih, belalang dengan kaki tunggang, belalang putih, belalang hijau kaki bengkok, dan lain-lain.
Sekarang, walaupun di depan masih ada taman, namun jarang sekali belalang-belalang itu saya temukan. Dahulu yang jika saya sentuh satu ranting bunga, maka akan ada beberapa belalang yang melompat terbang untuk berpindah. Sekarang saya kehilangan lompatan itu.
Satu lagi, dulu sering saya jumpai tanaman kepik yang tubuhnya berkilau seperti emas. Saya menyebutnya mas-mas-an yang jika tertempa sinar matahari akan berkilauan punggungnya. Sekarang, jarang sekali tertemui.
Ini sekarang, lantas bagaimana nanti dengan generasi berikutnya yang pastinya akan sangat sudah menemukan hal-hal kecil semacam itu.
Berharap bumi tidak marah. Berharap bumi tidak mengikis keindahannya untuk diperlihatkan kepada generasi setelahnya.
Berharap bumi tetap hijau rerumputnya, biru lautnya dan segar hawanya. – Tutut Indah Widyawati

2 thoughts on “Keindahan kecil di bumiku yang perlahan menghilang

  1. Bahkan bumi sekarang memunculkan “hewan” baru berupa penyakit yang mematikan. Virus!
    Kalau ditanya ulah siapa, jelas ulah manusia sih Ti, hanya manusia yg sanggup dan mau merusak bumi. Kalau tenaman dah hewan, secara naluri gak mungkin merusak bumi, soalnya mereka tau itu tempat tinggalnya..

    • Setuju mas ndop! Inginku melakukan hal-hal kecil untuk merawat bumi tapi sepasang tangan nggak mungkin “ngatasi” jika miliaran tangan sedang bekerja untuk merusak bumi.. entah bagiamana nanti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s