@mahananian, berbagi tanpa mengharap kembali

Taman Baca Mahanani.
Dua ribu dua belas yang lalu saya mulai mengenal namanya. Berawal dari sebuah ajakan seorang penulis yang pertama kali saya kenal dalam pertemuan singkat dengan bunda pipiet senja, Bunda Rahayu wilujeng. beliau mengajak saya untuk mengikuti event kelas bercerita dan keajaiban mendongeng di monumen simpang lima. Di sana saya mendengar salah satu nama.
Taman Baca Mahanani.

Mungkin karena naluri dari seorang pecinta buku yang bertemu dengan penyedia oleh-oleh bernama buku, jadilah suatu ketika saya ingin pergi kesana untuk melihat sendiri harta karun apa saja yang disembunyikan olehnya.

Nama rumah kecil berisikan tumpukan-tumpukan buku itu bermakna “migunani” atau memberi manfaat. Menurut sang pemilik, nama itu diberikan oleh sang bunda tercinta.
Pertama kali kesana, sedikitpun ia tak menunjukkan koleksi buku-bukunya. Namun, malah memberi saya pertanyaan yang saya jawab sekenanya. Pertanyaan itu terinspirasi dari buku milik Ajhan Bram.
Siapa orang yang paling penting dalam hidupmu? Kapan waktu terpenting dalam hidupmu?”
Dengan gaya bercerita, orang yang kala itu menggondrongkan rambutnya menjawab.
Orang yang paling penting adalah orang dihadapan kita. Dan waktu yang paling penting adalah sekarang.
Sebuah pelajaran dari mahanani yang tak dapat saya lupakan.

Setelah kunjungan pertama, saya tak banyak singgah ke sana. Alasannya karena sibuk dengan segala urusan remeh temeh yang banyak menyita waktu. Dalam jangka dua tahun mungkin hanya satu dua kali saya mengikutinya.

Tahun dua ribu empat belas, mulailah saya mengenal mahanani lebih dekat. Beberapa acara beratasnamakan Blogger Kediri, menggandeng mahanani untuk saling bekerja sama. Walau akhirnya Blogger Kediri lah yang mengekor mahanani dengan segala kehebatannya.

Semakin bersama, semakin paham dengan orang-orangnya.
Saya temukan orang-orang dengan tangan-tangan kreatif yang siap memberikan diri tanpa pamrih.
Orang-orang dengan sifat sarkastik yang kadang membuat orang tidak berkutik. Orang-orang dengan pemikiran logis nan kritis. Orang-orang dengan kritik pedas namun berakhir dengan canda tawa lepas.
Seperti mereka telah menemukan sebuah cara untuk mengimbangi sesuatu yang bersebrangan.

Hanya beberapa kali bergabung saya seperti menemukan dunia yang saya cari. Dunia tentang anak-anak, dunia tentang orang-orang kreatif yang memberikan dirinya tanpa syarat, dunia tentang bagaimana berbagi tanpa harus meminta kembali.

Saya juga seperti menemukan sebuah sudut paling mendamaikan di segala keramaian kota Kediri di Mahanani. Tumpukan buku-buku, buku, buku dan buku dimana-dimana, sesekali terdengar teriakan anak-anak kecil, sebuah danau kecil musiman hijau di sebelah barat bangunannya, menjadikan taman baca mahanani sebuah tempat singgah yang tepat bagi mereka yang mencari tempat terbaik untuk menghabiskan waktu dengan membaca, bercengkrama, atau sekedar bermain.

Entah saya sekarang siapa, namun baju kuning dengan gambar barometer mata seperti simbol terlantiknya saya menjadi salah satu darinya. Walaupun saya merasa belum pantas bersanding dengan orang-orang dengan definisi hebat dalam masing-masing bidangnya, namun biarkan saya belajar. Belajar untuk bisa seperti mereka. Belajar untuk akhirnya pantas disebut mahananian. Belajar bagaimana berbagi tanpa meminta kembali. @mahananian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s