Orang lain bagi Seseorang

Orang bisa disebut orang karena persepsi dari orang lain. Seperti seorang anak kecil sedang menceritakan mainannya, seperti itulah manusia akhirnya bisa disebut sebagai orang seutuhnya. Cerita orang lain, kata orang lain, persepsi orang lain akan seseorang terkadang dapat menjadi sebuah penilaian. Walau terkadang persepsi tersebut sangat subjektif hanya menurut apa yang orang itu temui, saksikan, dan lihat. Persepsi satu orang dan orang lain dalam menilai seseorang pastilah akan berbeda. Bisa jadi tergantung dengan bagaimana seseorang itu berperilaku kepada orang lain.
Cerita orang satu dengan cerita orang lainnya pasti akan berbeda jika diminta untuk menilai seseorang. Karena sudut pandang, karena sisi berbeda yang diperlihatkan tak sama.
Mungkin orang satu menilai seseorang dengan gambaran seorang yang baik, namun belum tentu orang lain menilai seseorang itu dengan gambaran yang baik pula. Mungkin karena situasi, mungkin karena suatu hal membuatnya berbeda.
Sekali lagi, semuanya hanyalah tentang pengambilan persepsi, pengambilan sudut pandang yang jelas tak pasti sama.
Namun yang ternilai pastilah satu titik tak terduga dari seseorang yang suatu ketika muncul dan menjadi sebuah nilai yang tergenggam selamanya bagi orang yang hanya datang untuk lewat bagi kehidupannya. Walaupun belum tentu titik tersebut adalah yang menjadi penilaian orang yang mengenal baik seseorang tersebut.
Namun sejarah akan menceritakan titik yang sama. Titik terbesar yang menjadi keseluruhan titik-titik putih dalam kehidupan seseorang.
Apakah seseorang harus berlalu dulu untuk menjadikan orang menilai baik atau buruknya? Bisa juga iya bisa juga tidak.
Iya karena manusia selalu berubah. Keadaan yang lebih sering membuatnya berubah, entah baik entah buruk. Tapi bisa jadi tidak karena dominan sifat yang sering muncul akan membuat orang lain bisa menilai seseorang tersebut, baik atau buruk.
Untuk menjadi seseorang ternyata orang harus melewati orang lain. Harus dari pengakuan orang lain, harus dari perkataan orang lain. Akan menjadi sebuah kesombongan jika orang menceritakan tentang dirinya. Bukankah cerita orang akan terdengar lebih hebat walau terkadang ada yang ditambah atau dikurangi?
Sekali lagi, menjadi seseorang adalah tentang bagaimana orang memperlakukan orang lain. Menjadi baik adalah satu-satunya pilihan. Tidak memilihnya berarti merupakan sebuah keburukan yang orang pilih. Terkadang, tidak memilih juga menjadi sebuah pilihan. Pilihan untuk tidak memilih.
Hanya, berikan yang terbaik kepada orang lain semampu diri, tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Maka seseorang akan tau bagaimana seserang itu akhirnya dapat dipanggil dengan orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s