Waktu dalam Hidup

Waktu. Satu hal didunia yang membatasi kehidupan manusia. Satu hal yang disamping bisa membuat segala sesuatu hidup dengan teratur, juga bisa membuat segalanya berantakan.

Setiap orang diberikan jatah yang sama dalam satu harinya, dua puluh empat jam, namun karena sebuah istilah bernama relativitas, rentang waktu antara manusia satu dan manusia lain pun menjadi berbeda.
Ada yang merasa 24 jam adalah waktu yang sangat lama, ada pula yang merasakan perputaran 24 jam perhari adalah waktu yang sangat singkat.
Entah hanya masalah persepsi atau memang sudah menjadi sebuah hukum alam.

Saya lebih merasakan menjadi manusia tipe yang kedua. Yang merasakan kurangnya waktu 24 jam yang diberikan dalam sehari.
Rasanya tak cukupnya waktu untuk berbuat lebih diluar tugas diri dalam memenuhi hak dan untuk menjalankan kewajiban.

“Waktu dua puluh empat jam adalah waktu yang sangat kurang jika digunakan untuk urusan dunia dan akhirat”
Beberapa minggu yang lalu saya sempat nge-tweet kalimat itu karena merasakan waktu yang sedemikian cepat berakhir.
Berasa masih pagi, tau-tau sudah sampai malam hari. Berasa baru kemarin hari senin, tiba-tiba sudah sampai di hari minggu. Merasa baru kemarin merasakan ramainya rumah, tiba-tiba saja merasakan keheningan yang luar biasa mencekat. Hidup menjadi seperti sebuah tiba-tiba.

Hidup sejatinya adalah menunggu waktu. Saat kecil menunggu untuk menjadi dewasa, saat dewasa menunggu saat untuk menjadi tua dan akhirnya menunggu saat penghabisan usia tiba.
Jika dihitung dengan hitungan satu dua tiga, rasanya akan sangat lama untuk menempuh satu demi satu tahun dalam hidup. Namun, ternyata hitungan satu dua tiga amatlah sangat singkat bagi kehidupan yang serba banyak untuk dilakukan.

Kalimat bijak berkata “Hidup akan terus berjalan tepat disaat kita sibuk membuat rencana-rencana.”
Hidup memang akan terus berjalan tanpa manusia berkuasa untuk menghentikannya. Manusia tak bisa hanya pasrah dengan mengikuti hidup yang memang sudah ada jalannya. Dengan rencana-rencana itulah hidup akan menemui esensi dari makna hidup itu sendiri.
Rencana juga lah yang membuat waktu mempunyai skemanya tersendiri untuk mempertunjukkan kerelativitasannya.
Tanpa rencana melakukan suatu hal dalam sehari, hidup akan menjadi terasa begitu lama terjalani.
Sebaliknya, semakin terencana sebuah hari, maka hidup akan terasa cepat berlalu dengan membawa sebuah pencapaian akan suatu hal.

Dalam hidup, suatu hari pasti datang. Dan suatu hari nanti datang karena ada hari ini dan hari esok yang tak pasti. Berbuat sebaik-sebaiknya untuk hari ini, sekarang, saat ini seperti sebuah keharusan untuk mendapatkan hari esok dan suatu hari yang lebih baik.
Selama menunggu hidup hingga mencapai dewasa, sudah banyak saya temui kata menyesal tentang banyak hal yang terjalani dengan kurang maksimal.
Jika waktu bisa terputar kembali, jika saya punya kemampuan sebagai a time traveler, jika saja saya punya time machine, saya ingin ingin ingin ingin sekali mengubah semuanya. Segala hal yang belum sempat saya utarakan, belum sempat saya kerjakan, belum sempat saya maksimalkan, terutama kepada Ibunda. Namun sekeras apapun meminta, merajuk kepada Sang Pemilik Masa untuk memperbaikinya, sungguh sama sekali tak ada gunanya.

image

Waktu - tiwwidy.wordpress.com

Spend our time as wise as possible because we never know when our time will come, we never know how the time treat us with its relativity, we never know how much time we have.
[Stay Walk In Faith]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s