“HUMAIRA” Keimanan adalah Kenangan

HUMAIRA (Kamran Pasha)

HUMAIRA (Kamran Pasha)

Apakah keimanan itu?

Ia adalah kenangan. Kenangan tentang waktu ketika semuanya serba sempurna di dunia ini. tatkala tak ada rasa takut, penghakiman, dan kematian.

Ia adalah kenangan akan waktu sebelum kita dilahirkan, sebuah lentera yang pada akhirnya akan membimbing kita kembali awal, pada kenangan dari mana kita berasal.

Ia adalah kenangan akan sebuah janji yang dibuat sebelum bumi dibentuk, sebelum bintang gemintang berkilauan di samudra purba. Sebuah janji yang mengatakan bahwa kita akan mengingat apa yang telah kita ketahui dalam perjalanan ini sehingga kita bisa kembali dalam lingkaran yang utuh, sama tapi berbeda.

Lebih tua. Lebih bijak. Penuh dengan rasa kasih sayang terhadap orang lain dan terhadap diri kita sendiri.

Apakah keimanan itu?

Ia adalah kenangan akan cinta. – HUMAIRA (Kamran Pasha)

Kenangan itu bagai angin. Mereka datang sekehendak hati mereka dan membawa serta harapan bagi orang yang masih hidup serta bahaya bagi mereka yang sudah wafat. Kita tidak bisa menguasai mereka. Tidak. Mereka yang menguasai kita dan gembira akan ketidaktetapan mereka, membawa hati kita kemana saja sekehendak mereka. – HUMAIRA (Kamran Pasha)

HARMONI : The Hearty Poems

Keinginan manusia sejatinya adalah bermil-mil jauhnya dibawah keinginan Tuhan akan manusia itu sendiri. Seperti kalimat ‘manusia hanya bisa berencana namun Tuhan yang menentukan’. Sekuat apapun keinginan manusia, jika Tuhan berkendak lain maka keinginan itu pun hanya menjadi debu yang tertiup angin. – @tiwwiDy

HARMONI - Antologi Puisi Warung Blogger

HARMONI – Antologi Puisi Warung Blogger

Bagi seorang penyair yang sebenar-benarnya, kalimat-kalimat dan diksi dalam puisi saya bertajuk “Aku Putrimu yang tak terima atasmu, Ibu..” adalah biasa, tak menarik, jauh dari kalimat sempurna untuk takaran sebuah puisi. Namun entah kenapa puisi saya itu terpilih menjadi salah satu kontributor Proyek Buku Warung Blogger kategori Penulisan Artikel Puisi dengan Desk Officer oleh mas Rudi G. Aswan.

Sebenarnya puisi itu adalah puisi yang saya buat sekitar akhir tahun 2011 lalu untuk Ibu saya. Selama itu masih saya simpan di draft karena saya merasa tak percaya diri untuk mempublished puisi itu di blog saya. Akhirnya, saat tau tentang Proyek Buku Blogger skekitar awal 2013 lalu saya memberanikan diri untuk mengikutkan puisi untuk Ibu saya itu sebagai penyemagat Ibu supaya segera sembuh. Dalam hati saya berkata, ‘jika nanti terpilih dan published, puisi ini akan kuhadiahkan untuk Ibuk.”

Namun, Tuhan berkata lain..

Dua puluh tiga hari sebelum deadline pengiriman tulisan, Allah memanggil Ibu saya untuk selama-lamanya sebelum ‘hadiah’ puisi ini benar-benar terhaturkan kepada beliau.

Empat tahun satu setengah bulan terangkum dalam beberapa bait kalimat puisi untuk Ibu. Bait-bait itu menceritakan curahan hati saya yang tak terima atas keadaan Ibu yang selama empat tahun lamanya waktu merentang namun tak sedikitpun ada perubahan yang berarti. Dan akhirnya setelah penantian selama itu kata ‘sembuh’ pun tak terdapati dan Allah mengatakan kalimat lain.

Tak apa. Tuhan sudah berkehendak dan buku antologi puisi ini tetap kupersembahkan kepada Ibu.

Buku Antologi Puisi Warung Blogger ini berjudul HARMONI. Dalam maknanya, Harmoni, selain keselarasan atau keserasian, Harmoni juga bermakna pernyataan rasa. Lewat kelima tema tentang Ibu, Religi, Lingkungan, Sosial, dan Cinta Tanah air, buku antologi ini menjadi sebuah cawan untuk menyatakan rasa untuk kekaguman terhadap Ibu, munajat kepada Tuhan, bisikan terhadap alam, serta zamrud cinta kepada Nusantara.

Sebenarnya belum selesai saya membaca satu persatu puisi dalam antologi ini, namun ada paragraph yang saya suka dalam Sekapur Sirih yang ditulis oleh Desk Officer Proyek Puisi ini, mas Rudi G. Aswan.

“Setiap kata yang kita gunakan sebenarnya memiliki kekuatan dan sejarah sendiri. Tanpa kita sadari, makna yang tersembunyi pada kata-kata ternyata sudah membangun rentetan panjang yang mungkin melebihi usia kita.
Dengan demikian, kita harus pahami bahwa kata-kata harus dipilih dengan cermat untuk mewakili gagasan yang ingin kita sampaikan. Mengetahui kedahsyatan kata baik secara mandiri maupun ketika dihimpun bersama kata-kata lain adalah bekal ketika kita hendak menulis puisi”

Kata-kata indah pada sekapur sirih tersebut seperti menjelaskan betapa proses melahirkan satu persatu puisi masing-masing penyair menjadi sebuah sejarah dalam hidup yang terangkum dalam satu persatu bait-bait puisi berdiksi indah.

Bila ingin menapaki satu per satu the hearty poems dari ke 35 penyair dalam Antologi Puisi Warung Blogger bisa order ke mas Rudi G. Aswan atau @belalangcerewet.

HARMONI - Cintamu Sesejuk Embun

HARMONI – Cintamu Sesejuk Embun

Akhirnya, kalimat terakhir dari review ini yang juga menjadi cover back dari antologi puisi Harmoni ini.

Here come real stars to fill the upper skies, and here on earth come emulating flies, that though they never equal starts in size (and they never really stars at heart) achieve at the times a very star-like start. Only, of course, they can’t sustain the part. – Robert Frost, Fireflies in the Garden.