“Hadits” Pertanyaan tentang Nasib Umat Akhir Zaman

Hidup manusia itu sejatinya berada dalam berbagai pertanyaan, pertanyaan tentang Tuhan, tentang hidup, tentang cinta, tentang segala yang ada dalam pemikiran manusia yang luar biasa. Tanpa pertanyaan mengapa, mungkin manusia tak akan hidup sepenuhnya menjadi manusia karena dengan bertanya, seperti memberikan satu tempat eksistensi dari sebuah akal.. – @tiwwiDy

Pertanyaan, satu kata yang sepertinya tak pernah jauh dari pemikiran saya dan yakin semua manusia akan selalu mempunyai pertanyaan dalam hidup. Memang, dalam sebuah pertanyaan selalu memerlukan jawaban bahkan bisa dari sebuah jawaban muncul pertanyaan baru dan seterusnya. Itulah hidup.

Disamping pertanyaan dengan jawaban, ada juga pertanyaan yang tak boleh dikejar jawabannya. Jawaban yang jawabannya hanya satu “wallahu’alam” seperti ayat-ayat Mutasyabihat-Nya. Semacam, alam mempunyai caranya sendiri untuk menyimpan rahasia Tuhan-Nya sehingga manusia mempunyai sebuah reminder untuk tidak menanyakan hal-hal yang disimpan oleh alam dan Tuhan-Nya.

Berbicara tentang pertanyaan, ada sebuah pertanyaan yang selama ini ada dipikiran saya. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat krusial tentang sebuah nasib umat akhir zaman. Dimana, akhir zaman atau zaman sebelum hari kiamat benar-benar datang digambarkan akan banyak sekali kemungkaran dan kebenaran yang tersamarkan karena diangkatnya ilmu oleh Allah ke langit.

النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ وَإِمَّا قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Hari kiamat tidak terjadi -atau ia mengatakan dengan redaksi; diantara tanda kiamat adalah- sehingga ilmu diangkat, kebodohan merajalela, khamer ditenggak, zina mewabah, (jumlah) laki-laki menyusut dan (jumlah) wanita melimpah ruah, hingga jika ada lima puluh wanita itu berbanding dengan seorang laki-laki.” (HR. Al-Bukhari : HADIST NO – 6310)

Dalam hadits diatas seperti nasib umat akhir zaman adalah sangat celaka. Sekarang pun bisa terlihat tanda-tanda akhir zaman dari pertanda alam, perilaku umat manusia itu sendiri, kalimat-kalimat orang tua jaman dahulu yang banyak yang benar, seperti mengisyaratkan bahwa umat akhir zaman adalah umat yang kembali jahiliyah. Umat yang ditakdirkan menjadi penghuni nerakanya Allah.

Lantas muncul pertanyaan dibenak saya, lalu kenapa jika Allah menghidupkan manusia di akhir zaman yang begitu banyak fitnah, kebodohan merajala lela, ilmu diangkat, zina mewabah yang semua itu pastilah dilakukan oleh manusia. Apa memang Allah bermaksud menghidupkan manusia untuk hidup yang buruk dan penghabisan yang buruk pula?

Pertanyaan itu masih sekedar pertanyaan tanpa jawaban yang berdasar sampai saya diskusikan ini dengan salah satu sahabat saya, Makhrusy Tri Wahyudi. Ia pun menjelaskan dengan kalimat runtun yang membuat pertanyaan saya mendapat jawaban yang berdasar, begini,

Hadits tentang Nasib Umat Akhir Zaman - @tiwwiDy

Hadits tentang Nasib Umat Akhir Zaman – @tiwwiDy

Nabi Muhammad tidak pernah sekalipun menganggap kaumnya sebagai murid, santri apalagi anak buah. Semuanya dianggap Nabi sebagai seorang sahabat. Diantara sekian banyak sahabat yang surganya dijamin oleh Allah adalah mereka khulafaur rasyidin (Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib).

Lantas, bagaimana dengan nasib sahabat yang lain? Rasul pun menjawab, “Selama mereka masih beriman kepada Allah dan terus memegang sunnahku maka mereka akan selamat.” Sejurus kemudian sahabat Ali bin Ali Bin Abi Thalib bertanya, “bagi sahabat yang hidup di jamanmu mungkin akan mudah beriman kepada Allah dan memegang sunnahmu, lalu bagaimana dengan dengan nasib umatmu nanti yang mana mereka hanya tau tentang riwayat ke-Rasul-anmu melalui Hadits dan Al-Qur’an dan tidak pernah melihat langsung sosok pemimpin Islam yang ketika namanya disebut harus melantunkan sholawat?”

Rasul pun menjawab, “Umat-ku sekalipun tidak akan pernah bingung dan tersesat selama mereka beirman kepada Allah dan terus memegang sunnahku. Justru umat Islam yang hidup jauh dari jaman kenabian-ku ini yang mana memegang sunnahku ibarat memegang api, berat bahkan sangat beras, panas bahkan sangat panas. Itulah umatku yang akan memperjuangkan surga dengan amalnya sendiri.”

رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ…

” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, …” (HR. Ibnu Majah : HADIST NO – 4021)

Jadi, Jaman kita sekarang ini memang berat, tapi khusnudzon dengan Allah harus diutamakan dengan yakin bahwa imbalan dari segala besarnya cobaan akhir zaman seperti mempertahankan iman dan seberapa hebat kita mengalahkan hawa nafsu untuk terus berada di jalan-Nya akan sangat besar. Itulah janji Allah.

…وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“… dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridla (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridlaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah : HADIST NO – 4021)

Advertisements

“Al-Baqarah : 281” ayat Al-Qur’an yang terakhir diturunkan

Al-Quran yang dalam pengertianku adalah sebuah pedoman hidup yang aku selalu mendapat banyak inspirasi dalam setiap ayat dan maknanya, Al-Qur’an adalah ensiklopedi seluruh cerita alam dan kehidupan. – @tiwwiDy

Al-Qur'an Al-Kareem

Al-Qur’an Al-Kareem

Untuk mengawali tulisan ini inginku mengucap, “Alhamdulillah ya Allah kau Islam-kan keluargaku sehingga aku juga Islam”. Yaa, agama yang kita anut sejatinya adalah warisan, dan awalnya aku kira, sebuah agama adalah sebuah takdir yang Allah berikan, yang kita tak dapat memilihnya seperti kita yang tak dapat memilih dikeluarga mana kita akan dilahirkan, namun ternyata hati nurani manusia adalah bisa memilih sehingga aku tetapkan bahwa,

Islam adalah agamaku, Allah adalah Tuhanku, Muhammad adalah Nabiku dan Al-Qur’an adalah pedomanku.

Al-Qur’an adalah sebuah pedoman, maka dari itu sedari kecil, sebagai seorang muslim kita telah diajari untuk bisa membacanya. Mulai dari pengajaran satu persatu huruf Hijaiyah dalam Iqro’, surat-surat pendek dalam juz 30 yang tercover dalam Juz Amma, hingga bila telah benar-benar lancar dalam membaca dilanjutkan kepada Al-Qur’an.

Yaa, selama ini menurutku Al-Qur’an hanya sebatas sebuah bacaan yang wajib dibaca, yang dimengerti maknanya dan menerapkannya dalam kehidupan. Karena memang, sedari kecil tidak pernah sekolah di sekolah agama, maka dari itu untuk Universitas aku memilih yang ada huruf I didalamnya. Walaupun kadang merasa minder karena jujur, banyak teman yang sudah mengerti tentang agama, dan aku hanya sebatas tau saja, namun disitulah sebenarnya tantangannya, dan benar, sekolah di sekolah Islam membuatku lebih mencintai agamaku karena ternyata banyak yang tidak kuketaui, salah satunya,

Selama ini, sejauh apa yang diterangkan guru agamaku di SD, SMP dan SMA, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 dan ayat yang terakhir kali turun adalah Al-Maidah ayat 3.

Namun, recently, ku ketahui bahwa ayat yang terakhir turun bukanlah Al-Maidah ayat 3, sebuah ayat yang turun ketika Nabi Muhammad sedang melakukan haji wada’ atau haji perpisahan. Walaupun masih terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tafsir tentang ini namun yang arjah adalah Al-Baqarah ayat 281.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“And fear a Day when you will be returned to Allah . Then every soul will be compensated for what it earned, and they will not be treated unjustly.” (Al-baqarah : 281)

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al-Baqarah : 281)

Al-Quran (Al-Baqarah : 281)

Al-Quran (Al-Baqarah : 281)

Pendapat itu adalah berdasar riwayat dari Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jubair, yang mengatakan bahwa ayat tersebut turun dengan jarak 9 hari sebelum wafatnya Nabi Muhammad.

Logikanya, Nabi Muhammad wafat pada tanggal 12 Rabiul awal, sedangkan Nabi melakukan haji wada’ pada tanggal 9
Dzulhijah. Terdapat rentang yang cukup lama antara bulan Dzulhijah dengan Rabiul Awal yaitu sekitar 3 bulan, Dzulhijah-Muharram-Shafar-Rabiul Awal.

3 bulan bukanlah rentang waktu yang singkat dan tidak mungkin selama itu Nabi tidak menerima wahyu dari Allah, mengingat jumlah ayat dalam Al-Qur’an mencapai 6236 ayat.

Walaupun menurut logika adalah masuk akal, namun tak boleh lah menafikkan pendapat ulama lain yang jelasnya seorang ulama mengeluarkan pendapat adalah berdasarkan dengan ijtihad atau dasar yang kuat. Wallahu’alam, kita kembalikan saja semuanya kepada Allah. 🙂