Kotak Kayu Jati Mbah Hasyim

Luar biasa rasanya, mengetahui sebuah benda telah menempuh sebuah jarak akan waktu yang cukup lama untuk masih ada. Menempuh waktu, melintasi generasi, hanya berubah usang karena termakan usia.
Melintasi waktu untuk membingkai cerita dan menyimpannya secara kasat mata yang pada suatu ketika orang-orang baru menjumpainya akan bisa mengungkap dengan sendiri sebuah cerita perjalanan panjangnya.

Pagi ini ketika sedang asik berkutat di dapur, pandanganku tertuju kepada sebuah benda usang milik Bapakku.
Sebuah kotak kayu jati tua yang baru saja dibawa kembali ke rumah setelah sekian lama tinggal di gudang penyimpanan.

image

Kotak Kayu Jati Mbah Hasyim

Kotak itu dulunya dipakai sebagai tempat baju, kata Bapak.
Samar-samar ingatanku kembali ke masa kecil yang dulu sering main-main masuk ke dalam kotak kayu itu dan mataku sering kupicingkan untuk mengintip sebuah lubang pengancingan dengan harapan bisa kudapati sebuah ibu peri menari didalamnya.

Bapak pun bercerita bahwa dulu, kotak kayu ini adalah milik kakeknya, Mbah Hasyim. Kotak ini diberikan kepada keluarga Bapak dengan cara dipikul oleh Mbah Hasyim dari rumahnya yang berjarak sekitar 30 km jika dihitung jarak dengan kilometer sampai rumah. Sebelah kanam pikulan Kotak Kayu ini, sebelah kiri pikulan mesin jahit “ukelan tangan”.
Dipikul, berjalan kaki, sejauh itu, bukankah masa lalu selalu menarik untuk diangkat kembali cerita hebatnya?

Mungkin, usia kotak kayu itu lebih dari usia Bapak yang sebentar lagi menginjak kepala 8. Sudah selama itu kotak ini ada untuk memberi kemanfaatan bagi manusia yang menyertakannya dalam hidup.

image

Kotak Kayu Jati dari Jaman Dahulu

Kotak kayu ini terbuat dari kayu jati. Kalau bukan jati asli, pasti sudah rusak dari dulunya, kata Bapak.
Di dalam kotak kayu terdapat sebuah kotak kecil di sisi sebelah kanan. Kotak kecil itu dulunya adalah tempat menyimpan uang.
Walaupun sudah sangat begitu tua namun kesan kokoh benda ini masih terasa setiap aku membuka kota kecil didalamnya. Seperti membuka sebuah cerita lama yang walaupun aku tak tau, namun aku sangat tau.

Dengan melihat kotak ini dengan seksama, aku mencari sebuah cerita di dalamnya. Mungkin kotak ini dulunya adalah sebuah kotak  berharga milik nenek Bapakku, terlihat dari adanya pengait gembok yang masih ada hingga sekarang.
Mungkin karena pakaian dulunya adalah barang mahal hingga harus dibuatkan peti untuk menyimpannya.

Kini, peti itu kembali melanjutkan tugasnya untuk kesekian lamanya. Bapak berniat untuk memakainya kembali sebagai tempat penyimpanan baju miliknya.
Aah, waktu selalu pandai dalam menjawab dan menanyakan sebuah pertanyaan akan cerita sebuah masa. Dan sekarang adalah waktu untuk membuatnya kembali.

Kotak Kayu Jati Mbah Hasyim.
[Stay_Walk_In_Faith]

Advertisements

Piala Dunia, Sepak Bola Setengah Dasawarsa

Sebagian orang menganggap, sepak bola adalah sebuah mahdzab tersendiri yang wajib diikuti kabarnya. Bukan sebagian, mungkin keseluruhan manusia pria.
Terkadang saya berpikir, apa bagusnya melihat 20 kaki yang saling menendang bola, saling tackling sampai berguling-guling, terengah-engah berlarian dalam lapangan hijau 120×90 meter, yang berakhir setelah 90 menit-an. Bahkan banyak yang begitu fanatik secara ekstrim dengan memasang profil diri dengan gambar klub kesayangan, mendekor kamar sesuai dengan klub sepak bola favorite atau koleksi segala merchandise-nya.
Emm, itu biasa yaa? tapi bagi saya perempuan yang kurang menggilai bola itu sudah fanatik tingkat ekstrim. Sebut saja, saya tipe perempuan pecinta sepak bola musiman setiap setengah dasawarsa, jadi jangan tanya siapa saja pemain club Real Madrid, Steven Gerrard ikut dalam klub apa, dan event apa pertandingan mereka. Jelas saya tak paham, mungkin sedikit paham dari membaca beberapa berita.
Namun jika itu Piala Dunia, i will definitely say yes!

Lagi-lagi semuanya berawal dari kakak-kakakku yang keren. Sejauh yang saya ingat, euforia piala dunia selalu hadir di rumah sejak dulunya. Bahkan saat TV hitam putih kami rusak, kami memindah TV tetangga yang rumahnya kecil untuk ditonton bersama di rumah. Tergambar begitu jelas, mungkin saat piala dunia tahun ketika jam 1 harus bangun karena semua bangun melihat bola dengan lampu yang dimatikan dan satu-satunya cahaya hanya dari TV yang kebanyakan men-shoot warna hijau. Bahkan mbak saya rela untuk pesan tabloid yang berhadiah booklet Piala Dunia dan memburu poster jadwal piala dunia yang ditempel di depan TV. Setiap pemenang di segala babak penyisihan saya yang menulis dengan spidol hitam.

Saat piala dunia 2006, saya kecil mulai sedikit fanatik dengan setiap pagi jika ikut ibu ke pasar membeli permen cecak dengan hadiah gambar-gambar pemain sepak bola. Yang paling banyak kucari adalah gambar David Beckam. Bahkan masih jelas teringat, saya pernah beli sepatu yang kebesaran demi hadiah gantungan kunci bergambar Beckam. That’s why, saya menjagokan inggris sedari dulu saya pertama kali mengenal Beckam. Bahkan masih ingatkah saat SD banyak beredar penghapus serial bendera negara-negara? Saya selalu kalau tidak membeli penghapus bergambar negara malaysia yaa Inggris.
Aah, euforia Piala Dunia selalu mendunia walau Indonesia belum pernah masuk jajaran group-group untuk bertandang. Piala Dunia atau World Cup sudah berhasil mengambil perhatianku sejak dulunya.

Euphoria World Cup.. (pic by Google)

Euphoria World Cup.. (pic by Google)

Alasan mengapa saya tak menyakini salah satu dari klub sepak bola seperti Manchester United, AC Milan, Arsenal atau yang lainnya adalah karena ketidaksetiaan mereka terhadap satu rumah. Jika ada yang berani membayar mahal, mereka akan pindah klub dengan bayaran yang mahal tersebut. ini seperti sepak bola hanya untuk mengejar sebuah prestis. Dalam hal ini saya pernah sampai beradu argumen dengan salah satu penggemar Real Madrid yang sekitar tahun 2009 membeli mahal Christiano Ronaldo yang awalnya ada pada klub MU. Jadi sebenarnya sepak bola sebagai profesionalitas atau hanya sebatas uang?
Beda dengan Piala Dunia yang ada rasa cinta dan pengabdian besar para pemain bola terhadap negaranya masing-masing. Mungkin biasanya mereka saling serang antar klub, namun di Piala Dunia bisa jadi bermain bersama untuk mengharumkan nama negerinya dan membawa piala kebanggaannya pulang. Piala Dunia jadi seperti sebuah pembuktian atas bertahun-tahun ber-latih dalam klub masing-masing dengan mempertaruhkan nama negara didadanya.

Bagaimanapun setiap orang pasti punya alasan tersendiri saat menjatuhkan pilihan untuk menyukai sesuatu. Apa yang saya lontarkan diatas adalah sebuah komentar dari perempuan yang mencoba sok tau tentang dunia bola dan tidak lebih. Mungkin sistem sebuah klub bola memang seperti itu namun bagi saya tidak ada kesetiaan disana, That’s my reason why i prefer to watch world cup than other football matches. And i do, always and always, i’m rooting for England!!