Tuhan Einstein dan Anjuran Perlawatan di Bumi

Seperti segala sesuatu selalu berhubungan satu sama lain. Mungkin karena bumi ini bulat, tak ada titik penghabisan, tak ada titik temu, terus berputar, saling berkaitan jadilah segala sesuatu di dunia ini juga selalu berkaitan satu sama lain.

Pagi ini saya mengingat kembali beberapa kalimat saat diskusi dengan @makhrusy, siangnya saya meminjam (paksa) buku biography Einstein yang dipinjam Ahmad Saifulloh dari Perpustakaan. Apa yang masih saya tulis setengah tentang sebuah perjalanan untuk mengagumi alam dilengkapi dengan kalimat Einstein dalam buku karya Walter Isaacson pada bab Tuhan Einstein itu.

“Perasaan paling indah yang kita bisa rasakan adalah perasaan misterius. Itu adalah perasaan mendasar yang menjadi tiang bagi semua seni dan ilmu pengetahuan sejati. Bagi mereka yang merasa asing dengan perasaan ini, yang tidak merasa heran dan berdiri dengan penuh kekaguman, sama saja dengan mati seperti lilin yang padam. Memahami bahwa dibalik semua yang bisa kita alami terhadap sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh pikiran kita yang keindahan dan keagungan menyentuh kita secara tidak langsung inilah yang disebut Religius.”

Yaa, kalimat itu menunjukkan arti Ke-Tuhan-an bagi seorang besar bernama Einstein. Saya maknai Kalimat itu senada dengan maksud untuk mengadakan perlawatan di bumi agar manusia bisa berdiri takjub melihat kuasa Tuhan atas alam-Nya, agar manusia bisa mendapatkan sebuah pelajaran dari memikirkan tanda-tanda yang alam berikan. Dari berdiri di depan bentangan alam dengan penuh rasa heran dan kekaguman tersebut seseorang bisa memahami ada sebuah Keagungan besar dibalik penciptaan keindahan yang disaksikannya yang Einstein menyebutnya dengan kata Religius.

فَسِيرُوا فِي الأرْضِ

“Berjalanlah kamu di muka bumi…” (Q.S. Ali- Imraan : 137)

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, …” (Q.S. Ar-Raad : 19)

Ada sebuah kalimat yang berhasil saya temukan korelasi-nya dengan tujuan mengadakan perlawatan di Bumi ini. Kalimat ini menjadi sebuah konsekuensi jawaban dari melihat ayat kauniyah Allah yang terbentang diluas seluruh bumi.

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
“Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu Subhaanallahul’azhiim dan Subhanallah wabihamdihi.”(H.R. Bukhari : 5927)

Dari Hadits diatas bisa diambil kesimpulan, Untuk hamba senaif kita mengucapkan kalimat subhanallahul’azhiim Subhanallah wabihamdihi itu tidak akan terjadi kecuali saat moment membaca tahlil dan melihat keindahan alam yang terbentang luas didepan mata, gunung yang menjulang, pantai biru yang membentang, tebing-tebing yg tinggi, dan ayat-ayat kauniyah Allah lainnya yang berwujud keindahan alam. Saya yakin, siapapun yang memilki kata yang didefinisikan Einstein “Religius” dalam dirinya akan otomatis mengucap dua frase diatas saat melihat keindahan alamnya.

Jadi seperti tugas manusia bukan hanya beribadah kepada Allah, bukan hanya menjadi kemanfaatan kepada sesama namun lebih dari itu yakni hablumminal’alam. Jika kau sudah bersujud di depan Tuhan-Mu, kau sudah bermanfaat terhadap sesamamu, berjalanlah sekalian kamu di bumi Allah maka kau akan mendapat kesempatan untuk merasakan betapa sujud kita tidak sia-sia karena Allah menampakkan secuil keindahan-Nya diatas bumi yg terbentang indah, merasakan betapa timbal balik dalam kehidupan itu selalu ada. Jika kau baik maka selalu akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik pula dimanapun itu berada. Intinya menjadi seseorang yang seimbang antara hablumminallah, habluminannas dan habluminal’alam. Maka keindahan hidup akan terasa disetiap kita menghela nafas.
Tutut Indah Widyawati