Alam Lereng Wilis, Air Terjun Patijotho

Sebuah keberuntungan bagi saya mendapatkan tempat KKN yang bisa dibilang terpencil daripada teman kkn lain di daerah Pamongan. Alam yang masih asri, hamparan pegunungan Wilis yang hijau nan indah dan jauh dari hikuk pikuk perkotaan.

Tempat KKN saya di Tumpakdoro adalah pintu masuk menuju sebuah air terjun yang masih asri di kaki pegunungan Wilis, yaitu Air Terjun Parijotho. Rencana Ekspedisi Air Terjun Parijotho hari ini sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama beberapa posko seluruh Pamongan, akhirnya pada minggu pertama KKN kami meluncur kesana untuk menyaksikan keindahan alam parijotho.

Perjalanan kami mulai sekitar pukul 8, rencananya kami berangkat bersama beberapa posko, namun karena mereka tidak juga sampai, kami beragkat lebih dulu. Kami mengabari ke kelompok bawah untuk mengikuti tali rafia merah yang kami pasang sebagai tanda di setiap persimpangan jalan.

Kami berangkat ber-tiga belas, sepuluh orang #KKN28 (Tutut, Badri, Septi, Khoir, Nidya, Ira, Ubet, Deby, Devid, Izud) dan tiga orang anak-anak Tumpakdoro (Rika, Wita dan Rizal). Kami berangkat menyusuri jalan setapak yang biasa dilewati penduduk sekitar untuk pergi ke tegil mereka. Matahari sudah naik cukup tinggi, namun udara tetap saja dingin. Semakin jauh dari peradaban semakin menawan pemandangan sekitar.

Pemandangan menuju Parijotho

Pemandangan menuju Air Terjun Parijotho

Pemandangan menuju Air Terjun Parijotho

Kami semakin dibuat takjub dengan apapun yang kami temui. Sawah terasering dengan kemiringan ekstrim, hutan pinus yang dikerat untuk diambil getahnya, jurang yang curam, tebing yang terjal. Allahu Akbar!! Sungguh besar kekuasaan dan keindahan-Mu Yaa Allah. Hanya dengan tempat sekecil ini bertambahlah rasa syukur kami atas alam-Mu yang terbentang.

Ternyata jalan menuju sungai yang jernih tadi harus melewati bebatuan dengan air yang mengalir dengan kemiringan mencapai 90 derajat! Kami pun turun dengan gaya “climbing” dan memilih pijakan yang tepat agar tidak jatuh. Sesampainya di bawah terdapat batu besar bertuliskan “Welcome to Parijotho”.
Kami pun langsung “ciblung” dalam air yang super jernih dan super dingin.

Batu Besar dengan Coreten "Welcome to Parijotho" berwarna Biru

Batu Besar dengan Coreten “Welcome to Parijotho” berwarna Biru

Air Parijotho yang Jernih dan Dingin

Lorong Alam Menuju Air Terjun Parijotho

Lorong Alam Menuju Air Terjun Parijotho

“Mana sih air terjunnya?” salah satu teman nyeletuk begitu saja dan ternyata air terjunnya ada di balik tebing yang tak telihat dari tempat kami turun. Subhanallah!! Air terjun yang cukup deras mengalir indah dari ketinggian sekitar 50 meter. Kata Erika, ini masih Air Terjun tingkat satu dan masih ada 9 tingkat lagi!

Bias Matahri di Air Terjun Parijotho

“Kenapa dinamakan Parijotho?” penulis sempat bertanya kepada Rizal. Kisahnya, dahulu sekitar tahun 2011-2012 an, Pak Sarni, sang penemu air terjun berniat menyusuri sungai untuk mencari kayu. Ternyata Pak Sarni malah bertemu dengan air terjun hingga sembilan tingkat. Di salah satu tingkatan air terjun, Pak Sarni menemukan “Pari Sak Jotho” atau sebatang padi, lantas air terjun ini dinamakan Parijotho.

Kami pun membuka bekal Nasi Goreng yang kami bungkus dengan daun pisang di pinggir sungai. disusul beberapa menit kemudian sampailah rombongan dari kelompok KKN Mojo lainnya. Setelah kurang lebih satu jam, pukul 11.00 kami #KKN28 memutuskan untuk kembali ke posko karena malamnya ada agenda diba’an dan jam 14.00 harus ke Bibi untuk ngajar TPA.

Perjalanan pun kami tempuh selama 2 jam, karena capeknya berjalan kaki dengan jalan yang menanjak sangat ekstrim. Jam 13.00 kami sampai di posko dengan satu kata “gemporrrr” !! Tapi begitulah hukum alam, untuk melihat keindahan harus bertemu dulu dengan kesusahan.

#KKN28 Tumpakdoro Terrain Tranquility

Be Careful of What You Wish For. Sepertinya kalimat itu bukan hanya sekedar quotation saja dan mungkin bisa dibilang sebagai kalimat ajaib yang ketika sebuah keinginan tak sungguh-sungguh dilontarkan dari mulut manusia tiba-tiba terwujud. Duluu sekali saya pernah punya keinginan untuk bisa KKN di suatu tempat yang terpencil jauh dari peradaban kota, dan ajaib! saat semester 6 nyaris selesai dan pintu KKN terbuka, keinginan itu pun menjadi nyata. terpampang dalam pengumuman nama saya dan kelima belas teman saya mendapatkan kelompok dengan nomor 28. And you know, 8 is my favorite number! Magical happened (again)! Keberuntungan awal tertuju kepada kelompok 28 berupa ucapan ketua penyelenggara KKN STAIN Kediri bahwa tempat kami Dukuh Tumpakdoro, Desa Pamongan, Kecamatan Mojo ini adalah posko paling susah untuk ditempuh dan terletak di desa terakhir paling pucuk lereng Gunung Wilis. my wish granted!

pemandangan alam Dukuh Tumpakdoro, Desa Pamongan, Mojo, Kediri

pemandangan alam Dukuh Tumpakdoro, Desa Pamongan, Mojo, Kediri

Medan yang susah menuju Dukuh Tumpakdoro

Medan yang susah menuju Dukuh Tumpakdoro

Saya selalu percaya bahwa orang baik selalu akan dibersamakan dengan orang-orang yag baik pula. ini salah satu kalimat ajaib lainnya dalam hidup. alhamdulillah, saya dibersamakan dengan kawan-kawan KKN dengan berbagai macam karakter namun sedari awal bertemu kami sudah seperti keluarga sendiri. 16 orang ini campuran dari berbagai jurusan seperti Pendidikan Bahasa Inggris (saya, Mbak Dika, Izzud), Pendidikan Agama Islam (Mas Deby, Ubet, Badriyah, Septi, Khoir), Psikologi (Nidya), Akhlaq Tasawuf (Rahma), Ekonomi Syariah (Devid, Ira), Komunikasi Islam (Ghadafy), dan GPAI (Bu Siti). Mulai dari yang ramee banget-nget-nget sampai pendiem ada. dan untuk 40 hari ke depan mereka lah keluarga baru saya dan seterusnya keluarga.

Dibilang menjadi medan paling susah mungkin sangat benar. Saya hitung, dari Wonokasihan menuju Tumpakdoro saya harus menempuh sekitar 50 km! dua kali survey kesana, dua kali juga saya merasa tepar setepar-teparnya. Jauh, jalan berkelok, jalan berbatu, jalan curam, dan tak terbayangkan lainnya.

Untuk jalan dari belokan jalan raya Mojo-Tulungagung menuju desa Pamongan memang masih sangat baik dan beraspal, namun saat bertemu dengan dua jalan bercabang jangan harap bertemu dengan jalan lurus dan mulus. Masuk dusun karangdoro jalan berganti dengan jalan beton dengan tingkat kemiringan dan belokan yang ekstrim. Masuk ke dukuh tumpakdoro jalan tak lagi manusiawi karena jalannya makadam dengan bebatuan lumayan besar dan kecuraman masih ekstrim. Sholawat-Sholawat dan Sholawat terus ketika melewati jalan seperti inii. Namun jangan ditanya bagaimana pemandangannya karena jawabannya hanya satu arti dengan segala kata-nya “Magnificent, Amazing, Wonderful, Gorgeous, Picturesque, Beautiful, Heavenly, etc”

Penduduk sekitar yang sangat bergantung pada alam

Penduduk sekitar yang sangat bergantung pada alam

Lereng Gunung Wilis dari Tumpakdoro

Lereng Gunung Wilis dari Tumpakdoro

Buah Pinus, Jalanan terjal yang membawa ke hamparan hutan pinus nan hijau

Buah Pinus, Jalanan terjal yang membawa ke hamparan hutan pinus nan hijau

Hamparan luas perbukitan lereng Gunung Wilis sangat-sangat-sangat-sangat indah!! Udara yang dingin, Pemandangan hijau bergradasi biru, air yang jernih, orang-orang yang ramah, aah semuanya membuat saya berkesimpulan bahwa Tumpakdoro is the best place to escape from the hectic madness! bahkan sekitar 2 jam perjalanan jalan kaki ada sebuah air terjun yang baru ditemukan, masih sangat alami dan sangat indah bernama.parijoto. Yaa Allah! Air terjun ini adalah air terjun yang awal 2012 lalu sering saya perbincangkan untuk bisa kesana bersama teman-teman pecinta sejarah kediri.

KKN ini sepertinya menjadi sebuah penepatan janji atas beberapa keinginan dari masa lalu. Bismillah, doa saya berharap selama 40 hari disana bisa menjadi sebuah masa yang akan sedikit mengubah cerita kehidupan menjadi lebih baik. aamiin.